Sebagaimana kita ketahui bahwa pendidikan itu dapat dilaksanakan dimana saja, baik dilingkungan keluarga, lingkungan sekolah, maupun dalam lingkungan masyarakat. Oleh karena itu sebagai orang tua wajib memberikan pendidikan kepada anaknya. Orang tua dalam kaitannya dengan kemandirian anak adalah sebagai pendidik utama, maka dari itu tanggung jawab orang tua terhadap kemandirian anak diantaranya memberikan dorongan atau motivasi baik itu kasih sayang, tanggung jawab moral, tanggung jawab sosial, tanggung jawab atas kesejahteraan anak baik lahir maupun batin, serta kebahagiaan dunia dan akhirat.
Menurut Singgih Gunarsa dalam buku Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja (2004), kemandirian dapat berkembang dengan baik bila diberikan kesempatan untuk berkembang melalui latihan yang dilakukan sejak dini. Kemandirian semakin berkembang seiring pertambahan usia.
Pola asuh yang diberikan orangtua kepada anak sangat memengaruhi kemandirian anak. Bila orangtua memberikan suasana keluarga yang nyaman dan aman dalam membangun komunikasi, maka perkembangan kemandirian anak akan berjalan dengan bagus. Namun, jika orangtua cenderung mengontrol anak, maka perkembangan sosial dan intelektual anak yang mempengaruhi kemandiriannya. Ketidakmampuan anak melepaskan diri dari kekuatan otoritas atau tunduknya anak pada kekuatan otoritas adalah salah satu indikator kepatuhan.
Beberapa ahli mengemukankan pendapatnya tentang ciri-ciri kemandirian. Pendapat-pendapat para ahli, seperti Gilmore dalam Chabib Thoha, Lindzey & Ritter, Hasan Basri, Antonius, menyebutkan hal-hal berikut ini dalam ciri-ciri kemandirian:
- Ada rasa tanggung jawab
- Mampu bekerja sendiri secara mandiri (jarang meminta pertolongan orang lain)
- Memiliki sikap kreatif,
- Punya insiatif,
- Menguasa ketrampilan dan keahlian sesuai dengan bidang kerjanya
- Menghargai waktu
- Punya rasa aman jika memiliki pendapat yang berbeda dengan orang lain
- Memiliki menyelesaikan persoalan
- Mampu menimbangan dengan baik problem yang dihadapi secara intelegen
- Puas dengan pekerjaan yang dilakukannya.
- Punya percaya diri
- Dapat melayani diri sendiri, terutama untuk hal-hal pribadi
Tantangan terbesar individu yang memiliki kekhususan adalah mennyelesaikan tantangannya yang terkait dengan kekhususannya sebagai anak berkebutuhan khusus. Sehingga definisi mandiri bagi anak berkebutuhan khususpun menjadi bervariasi, tergantung jenis kekhususan dan hambatannya. Seperti anak penyandang disabilitas pengelihatan yang mencoba untuk mampu “melihat” dengan alat bantu. Atau penyandang autism yang mencoba mengembakan kemampuannya berkomunikasi, berinteraksi sosial ataupun mengendalikan perilakunya yang dianggap tidak wajar dilakukan oleh anak-anak pada umumnya. Bukan hal mudah, tetapi juga bukan tidak mungkin.
Alat bantu, fasilitas, dukungan moral maupun fisik sangat dibutuhkan anak-anak berkebutuhan khusus, menjadi salah satu solusi bagi pemulihan ataupun pengembangan kemampuan diri. Misalnya, anak penyandang disabilitas pengelihatan, menggunakan kacamata, instruksi dengan menggunakan suara sebagai penganti instruksi tertulis atau tulisan braille, sebagai alat bantu dan fasilitas. Hingga seorang anak penyandang disabilitas pengelihatan dapat berinteraksi dan berkarya sebagaimana anak-anak lainnya.
Yang penting dari bahasan kali ini adalah, anak-anak yang telah menunjukkan ciri-ciri mandiri, berhak untuk mendapatkan kepercayaan dari orangtua ataupun orang-orang dewasa yang ada disekelilingnya. Walaupun ciri-ciri yang ditunjukkan masih sangat awal dan sederhana. Anak-anak yang mendapat kepercayaan mereka telah mampu mandiri, mampu melakukan hal-hal yang dapat membuat mereka tidak berbeda dengan anak-anak lain.
Sedangkan dengan memperlakukan mereka masih tetap sama, sebagaimana ia belum mandiri, justru akan membuat Ananda mengalami kemunduran. Rasa percaya dirinya menurun, berkarya tidaklah memuaskan. Anak kembali bergantung. Peran serta orangtua dan orang-orang dewasa yang ada di sekeliling sangat menentukan perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus ini makin meningkat kemandiriannya.
Sebagai contoh, anak yang sudah mampu mencuci piring sendiri, dilarang untuk mencuci piring. Dengan alasannya ananda belum mencapai standar kebersihan yang dimiliki orangtua, atau orangtua tidak tega melihatnya mencuci piring. Alasan-alasan ini membuat anak merasa tidak percaya diri dan enggan mencuci piringnya sendiri.
Peran orangtua disini, jika memiliki anak dengan IQ lemah, kurang percaya diri, gugup, ragu, malas, trauma, depresi dan lain-lain, maka orangtua harus mampu melakukan segala hal agar anak jadi lebih baik dan maju. Orangtua menjadi terapis saat anak berusia remaja yang umumnya labil dan mencari identitas diri, sehingga kerap berperilaku yang tidak semestinya. Contohnya, anak mulai merasakan kesulitan dengan pelajaran tertentu, sehingga terkadang dia sampai malas sekolah. Orangtua juga bisa menjadi terapis terutama ketika memiliki anak berkebutuhan khusus, kecanduan gawai yang akut, kecanduan pornografi, dan perilaku negatif lainnya.
sumber:
https://edukasi.kompas.com/







