Apabila dilihat secara signifikan, anak berkebutuhan khusus merupakan seorang anak yang memiliki gangguan, baik dalam fisik, emosional, mental, ataupun sosial. Bukan hanya mengalami gangguan, ABK juga mengalami gangguan perkembangan, kesulitan akademis, keterampilan keseharian, dan kemandirian. Kategori yang termasuk ABK adalah autisme, attention deficit/hyperactivity disorder, Down syndrome, Asperger’s syndrome, pervasive developmental disorder, sensory integration dysfunction, cerebral palsy, keterlambatan wicara, serta gangguan proses pendengaran dan perilaku.
Meskipun ABK mengalami gangguan dan keterbatasan, bukan berarti sang anak dibiarkan begitu saja, tidak mengenyam pendidikan, atau perhatian lain yang sama seperti anak normal lainnya. Justru ABK membutuhkan pendidikan khusus yang sesuai dengan kapasitas dan kemampuanya. Mereka membutuhkan terapi tertentu yang dapat membantu ABK untuk lebih mandiri.

Mengapa terapi diperlukan? Sebenarnya, masa anak-anak adalah fase yang kritis untuk proses pertumbuhan dan perkembangan. Baik secara fisik ataupun mentalnya. Untuk mengurangi gangguan kesehatan dan kelainan fungsi, dokter biasanya menyarankan untuk melakukan terapi.
Secara umum, terapi untuk anak berkebutuhan khusus dibagi menjadi dua, yakni terapi fisik dan mental. Berikut ini beberapa terapi anak berkebutuhan khsusus yang perlu Anda ketahui.
-
Terapi Fisik
Terapi ini sebenarnya bermanfaat untuk menangani kekurangan fisik dan juga gangguan pada gerakan. Terapi fisik ini terbagi menjadi dua jenis. Ada yang dinamakan terapi fisik pasif. Biasanya, gerakan fisik dilakukan oleh bantuan terapis. Sedangkan terapi fisik aktif, gerakannya dilakun sendiri oleh pasien terapi.
Dalam terapi fisik ini, pasien bisa melakukan perlawanan gerak terhadap terapis untuk memperkuat bagian otot tertentu. Umumnya, anak dengan cerebral palsy atau polio biasanya disarankan melakukan terapi fisik aktif untuk mengembalikan fungsi geraknya.
-
Terapi Kognitif Perilaku
Umumnya, anak autisme memiliki gangguan kognitif dan komunikasi. Gangguan inilah yang menyebabkan anak autisme sulit menyampaikan perasaannya. Hal ini kemudian membuat mereka stres dan mengalami tantrum. Ternyata, hal tersebut bisa dikurangi dengan melakukan terapi.
Terapi yang dimaksud disebut Cognitive Behaviorial Therapy (CBT). Ini merupakan bentuk psikoterapi yang bermanfaat untuk mengubah pola pikir dan perilaku anak berkebutuhan khusus. Bila dilakukan secara rutin, anak autis bisa lebih stabil emosinya dan perlahan belajar menyampaikan perasaannya.

-
Terapi Wicara
Terapi ini fokus terhadap melatih kemampuan anak berbicara, melatih otot mulut, lidah, dan tenggorokan. Caranya dengan mengajak si Kecil meniup, menirukan suara, bahkan berlatih bahasa isyarat. Anak yang mengalami cerebral palsy, Tunarungu, Tunawicara dan juga autisme.
-
Terapi Okupasi
Menurut jurnal Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus oleh Dinie Ratri Desiningrum, terapi okupasi adalah terapi untuk melatih bagian motorik halus Anak. Caranya dengan melakukan gerakan presisi. Misalnya, mengancingkan baju, menulis, memegang sendok untuk makan, atau mandi.
Kemampuan ini diperlukan untuk aktivitas sehari-hari sehingga penting untuk kemandirian dan kualitas hidup anak. Terapi okupasi sering diterapkan pada anak dengan sindroma down.

-
Terapi Bermain
Terapi bermain dilakukan dengan cara membiarkan anak bermain dalam ruangan yang aman dan nyaman tanpa ada batasan. Hal ini ditujukan agar anak dapat mengekspresikan dirinya. Setidaknya dapat menyampaikan perasaan.
Setelah itu, anak berkebutuhan khusus belajar untuk analisis dan menyelesaikan masalah yang diberikan dalam permainan. Biasanya, terapis akan memberikan perintah mulai dari yang mudah hingga sulit. Terapi ini biasanya diberikan pada anak dengan gangguan komunikasi seperti autisme atau sindroma down.
-
Terapi Sensori Integrasi
Dalam penelitian Sari Pediatri yang dipublikasikan Research Gate, terapi sensori integrasi memanfaatkan panca indera anak berkebutuhan khusus. Terutama keseimbangan, sentuhan, dan kesadaran akan posisi dan gerak tubuh. Terapi ini bertujuan membantu anak dengan gangguan belajar, perkembangan, dan perilaku. Terapi untuk anak berkebutuhan khusus sebenarnya sangat banyak jenisnya. Pemilihan terapi perlu disesuaikan dengan kondisi setiap anak.






